Karya Terbaru

DEE LESTARI

Ketika penciuman membawa kita menjelajah dunia baru, membuka pintu menuju dunia yang tidak pernah kita pikirkan.

Dee tertarik wewangian dan aroma sejak kecil, tetapi tidak pernah mempelajarinya secara serius. Dee mulai menyadari kekuatan deskripsi aroma ketika menulis Madre tahun 2009. Dee juga mengamati bahwa deskripsi lewat indra penciuman kalah banyak digunakan di fiksi jika dibandingkan deskripsi visual. Baik dari teori menulis maupun pengalamannya saat menulis, Dee memahami bahwa penciuman merupakan cara deskripsi yang berdampak paling kuat, hanya saja mungkin lebih sulit diungkapkan sehingga tidak banyak digunakan. Inilah yang membuat Dee tertantang untuk mengeksplorasi penciuman dalam fiksi.

Rilis serentak di toko buku seluruh Indonesia tanggal 16 Maret 2018

Persembahan Kami

Bentang Pustaka selalu berusaha menghadirkan pengalaman baru dalam membaca, melalui terbitan karya-karya berkualitas, salah satunya adalah karya terbaru penulis perempuan Indonesia terlaris, Dee Lestari.

Selamat menghidu Aroma Karsa.

Dee Lestari di Talkshow Sarah Sechan NET. TV

Wawancara Dee Lestari di Indonesia Morning Show NET. TV
Dee Lestari di Talkshow Sarah Sechan NET. TV
Aroma Karsa : Mengapa Memilih Tema Aroma
Aroma Karsa: Sulitnya Menulis Tentang Aroma
Aroma Karsa: Riset ke TPA Bantar Gebang
Aroma Karsa: Inspirasi Tokoh Utama Aroma Karsa
Aroma Karsa: Cerbung Digital & Komunitas
Aroma Karsa: Kursus Meracik Parfum
Aroma Karsa: Riset ke Gunung Lawu
Aroma Karsa: Dee & Aroma

Sinopsis

Dari obsesi Raras Prayagung pada dongeng tentang bunga bernama Puspa Karsa, pembaca akan dibawa ke dalam petualangan dua orang anak muda, Jati Wesi dan Tanaya Suma, dengan kepekaan membaui yang luar biasa.

JATI mengenal Komandan Mada lewat sebuah kasus yang menghebohkan TPA Bantar Gebang, setahun lalu, tatkala seorang penadah asal Indramayu bernama Aan Durahman dikabarkan berhari-hari tak pulang ke bedengnya.

Istri Aan, seorang perempuan Sunda bernama Imas, mengadu kepada Nurdin, yang lalu mengusulkan agar Imas mengadu ke polisi. Usulan itu disambut tawar. Tidak mudah bagi warga di TPA mendapatkan perhatian polisi. Warga TPA hidup dalam hierarki dan sistem kemasyarakatan tersendiri. Pekerja datang dan pergi dengan aturan di luar jangkauan birokrasi resmi. Imas meyakini suaminya korban persaingan kotor antarpenadah. Namun, tak ada bukti. Penyelidikan polisi yang setengah hati, warga yang menutup diri, membuat kasus hilangnya Aan lenyap ditelan sampah.

Suatu hari di warung nasi dekat titik pembuangan Zona 6, Jati melihat Imas melamuni bukit sampah dengan pandangan nanar, pipi basah oleh air mata. Pengunjung lain di warung tidak menggubris Imas yang sejak suaminya hilang sering terlihat luntang-lantung. Mereka memilih asyik dengan piring nasi dan gelas kopi masing-masing. Mereka tahu satu pertanyaan “kenapa?” akan berujung pada keluh kesah yang tak selesai-selesai. Hanya Jati yang cukup naif untuk bertanya.

Mengalirlah untaian cerita Imas, yang sebagian besar sudah pernah Jati dengar dari Nurdin, dilengkapi sebuah informasi tambahan. Imas bercerita, Aan mendatanginya lewat mimpi. Dalam mimpi itu, Aan mengatakan bahwa dirinya terbenam dalam timbunan sampah. Imas semakin yakin suaminya tewas dibunuh. Namun, Imas juga sadar, ibarat mencari satu bangkai teri di lautan bangkai segala rupa ikan, mencari jasad di timbunan sampah Bantar Gebang membutuhkan keajaiban.

Imas tidak tahu bahwa anak buah Nurdin yang mengobrol dengannya punya julukan “Hidung Tikus”. Jika ada satu manusia di Bantar Gebang yang mampu menghadirkan secercah kemungkinan di lautan ketidakmungkinan, manusia itu adalah Jati Wesi si Hidung Tikus. Percakapan tak sengaja di warung nasi berubah menjadi misi.

Berbekal potongan keterangan tentang hari-hari terakhir Aan, Jati memutuskan menyelidiki Zona 3 dan Zona 4. Ia mengambil cuti dari semua tempat kerjanya demi menyusuri petak demi petak bukit sampah. Jati berpacu dengan waktu. Suhu dan mikroba dalam gundukan sampah mempercepat dekomposisi mayat. Petunjuk bau yang ia cari terus bergeser.

Pada hari ketujuh sejak hilangnya Aan Durahman, Jati akhirnya menancapkan pasak kayu di satu titik di bukit sampah Zona 4. Beberapa rekannya dari pabrik kompos membantu Jati menggali area di sekitar pasak itu. Setelah beberapa jam menggali, pada kedalaman kurang lebih satu setengah meter dari permukaan tampaklah punggung manusia bertelungkup. Jasad itu kemudian dikenali dan dikonfirmasi oleh Imas, setelah terpingsan-pingsan beberapa kali, sebagai jasad suaminya yang raib.

Polisi menindaklanjuti. Dari proses autopsi, diketahui bahwa Aan mati akibat jeratan di leher. Penyidikan polisi terus berlanjut hingga akhirnya seorang penadah dan dua kaki tangannya terjerat tuduhan pembunuhan berencana. Teori Imas terbukti benar. Namun, tanpa Jati Wesi si Hidung Tikus, teori itu tak akan melangkah lebih jauh dari racauan istri kehilangan suami.

Jati ikut dipanggil ke kantor polisi. Seseorang inginmewawancarainya. Komandan Mada Utama.

Selepas makan siang, Komandan Mada memanggil masuk pemuda dua puluh lima tahun bernama Jati Wesi itu ke ruang kerjanya. Dengan perhatian penuh, ia mempelajari Jati yang duduk mengkeret dengan kepala separuh menunduk.

“Bagaimana kamu bisa tahu tempat Aan dikubur?” tanya Komandan Mada tanpa basa-basi.

“Dari baunya, Komandan.”

Komandan Mada sempat menengok ke tempat evakuasi. Ia juga pernah berkeliling ke area TPA Bantar Gebang yang luasnya ratusan hektare. Kiri-kanan, depan-belakang, atas-bawah, baginya hanya ada satu bau di situ. Bau sampah. “Mayat Aan terkubur sampah satu setengah meter, betul? Dan, kamu masih bisa cium baunya dari permukaan? Begitu?”

“Mayat manusia baunya beda, Pak.”

Desain

yang Artsy

Desain cover menggunakan ilustrasi manual yang impresif dengan teknik arsir yang membutuhkan ketekunan dan ketelatenan demi menghadirkan representasi dunia aroma yang nyata.

Tebal dan

Penuh Makna

724 halaman yang menampilkan kepiawaian Dee dalam menyusun lebih dari 100.000 kata menjadi alur yang berliku dan penuh kejutan, Dee berhasil menjebak pembaca untuk menyesap setiap halamannya hingga lembaran terakhir.
Dee Lestari memulai risetnya sejak November 2016. Draf pertama Aroma Karsa ditulis selama 9 bulan sejak Januari 2017 dan dilakukan simultan dengan proses riset. Proses penyuntingan dilakukan intensif selama 4 bulan sejak November 2017 hingga Maret 2018. Sebagaimana karya-karya sebelumnya, Dee melakukan riset dengan serius. Cakupan riset Aroma Karsa antara lain:

  • Kursus meracik parfum – untuk mengetahui dasar ilmu peracikan parfum, Dee mengikuti kursus yang diselenggarakan Nose Who Knows di Singapura, afiliasi dari Cinquième Sens, Prancis.
  • TPA Bantar Gebang – untuk mengetahui kehidupan pemulung, mengalami langsung aroma TPA, serta melihat kondisi di sana.
  • Gunung Lawu – untuk mewawancarai juru kunci, meriset jalur tengah.
  • Pabrik Mustika Ratu – sebagai model perusahaan kosmetik Kemara yang menjadi bagian cerita.
  • Darwyn Tse (Making Scents by DTSE) – seorang peracik parfum artisan di Indonesia.
  • Fakultas Ilmu Budaya UI – tentang bahasa Jawa Kuno dan epigrafi Majapahit, antara lain Dr. Ninie Susanti & Dwi Puspitorini, S.S., M.Hum.
  • Vincent Luhur – seorang kolektor anggrek untuk kebutuhan detail anggrek dalam cerita.
  • Ananda Mikola – untuk melengkapi detail yang dibutuhkan bagi seorang karakter pembalap di cerita.

Bagi Dee, riset yang cermat dan tepat penting untuk “menganyam fakta ke dalam fiksi”, sehingga karya yang dihasilkan memiliki efek kuat dan terasa nyata bagi pembaca.

DEE LESTARI

Dewi Lestari, bernama pena Dee Lestari, memulai debutnya di dunia sastra pada 2001 dengan episode pertama serial Supernova berjudul Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Disusul episode-episode berikutnya; Akar (2002), Petir (2004), Partikel (2012), Gelombang (2014), dan Inteligensi Embun Pagi (2016) sebagai episode pamungkas sekaligus penanda 15 tahun perjalanan serial Supernova. Pada 2017 Dee merilis Kepingan Supernova, berisi kumpulan kutipan serial Supernova. Tahun 2018 Dee kembali melahirkan karya berjudul Aroma Karsa dengan aroma sebagai benang merahnya.

Karya fenomenal Dee lainnya, yakni Filosofi Kopi (2006), Rectoverso (2008), Perahu Kertas (2009), dan Madre (2011), termasuk Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh telah diadaptasi menjadi film layar lebar.Berbagai penghargaan diperoleh Dee, antara lain 5 Besar Khatulistiwa Award, Karya Sastra Terbaik 2006 versi Majalah Tempo, Penghargaan Badan Bahasa dan Departemen Pendidikan Indonesia, Anugerah Pembaca 2015 untuk Kategori Fiksi Favorit dan Penulis Favorit, Anugerah Pembaca 2016 untuk Kategori Fiksi Favorit dan Penulis Favorit, dan Book of The Year 2016 dari Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI).

Apa Kata mereka
“Selesai membaca #AromaKarsa. Petualangan liar yang luar biasa. Mulai dari perkembangan karakter, plot yang kuat, struktur bercerita yang edan, sampai perburuan bunga ‘gaib’. A must read. A. MUST. READ.” Alexander Thian (@aMrazing)

Chief Digital Officer Digital Petrichor

“Ini novel yang luar biasa! Wangi ceritanya sudah terasa sejak halaman-halaman pertama, tak sabar segera menjelajahi petualangan aromanya.” Fahd Pahdepie (@fahdpahdepie)

Penulis Buku Hijrah Bang Tato

“Barusan selesai baca Aroma Karsa. Bagus sekali.” Benard Batubara (@benzbara_)

Penulis Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran (2017)

“Buku baru Dee Lestari — selalu memukau dari bagian ke bagian. Terimakasih!” Goenawan Mohamad (@gm_gm)

“Aroma tetumbuhan kering seolah menyeruak dari lembar demi lembar halaman yang kubaca, seketika pula terbayang harum rempah yang bercampur mencalat masuk ke selaput imajinasiku. Buku maut! Nuhun kak @deelestari sudah mengajak khayalku menerawang dalam kisah #AromaKarsa” Motulz Anto (@motulz)

Socmed Videographer

“Sudah setengah jalan. Emosi diaduk-aduk dan tetep dibikin penasaran.” Erma Yasinta

“Aroma Karsa, karya terbaru @deelestari.
Perlu segera dibaca” Ali Akbar (@arkeologkeren)

Arkeologis

“Juwarak banget sih maksur Dewi Lestari mengaduk-aduk emosi dan pikiran.” Nova Aryani

Segera Dapatkan
Miliki Aroma Karsa sekarang dan dapatkan diskonnya!

978-602-291-463-1 | Soft Cover |

14 x 20 x 4 Cm

Rp 125.000

Rp 106.250

Dapatkan karya Dee Lestari Lainnya dengan harga khusus di Mizan Store

Jadilah yang pertama!

Share us on